Laman

Minggu, 20 April 2014

Efek dari Radiasi HP bagi Kesehatan




Efek dari Radiasi HP bagi Kesehatan
 
Di zaman yang canggih dan penuh dengan teknologi ini, hampir setiap orang memiliki telepon seluler alias ponsel atau HP, dan hingga kini penggunaan HP terus meningkat pesat. Pada masyarakat modern, HP sudah menjadi sebuah kebutuhan primer, ibarat makanan dan minuman. Namun tak banyak yang mengerti, ternyata penggunaan HP itu sendiri menimbulkan radiasi yang cukup berbahaya bagi kesehatan tubuh dan lingkungan.

Dr. Eka Putra Setiawan, Sp.T.H.T dari bagian Divisi Otologi RS Sanglah mengatakan telepon gengam diciptakan untuk memudahkan manusia berkomunikasi. Namun, kata lelaki kelahiran 15 Juni 1961 ini, banyak efek samping dari penggunaan handphone yang salah. Hal ini berkaitan dengan volume suara dan jarak dengar.

"Semakin HP ditempelkan ke telinga, maka semakin melekat mengenai liang telinga. Efeknya semakin besar yang menyebabkan terjadi peningkatan bunyi atau resonansi, " ujar spesialis T.H.T. tamatan UGM Yogyakarta ini. Semakin lama menggunakan HP, kata Dokter Eka, maka semakin lama bunyi bising yang menyebabkan kelelahan otot. "Menggunakan HP hendaknya bergantian pada telinga kanan dan kiri. Sama halnya dengan olahraga berjalan atau lari. Semakin jauh akan terasa capek dan otot pegal. Ada masanya untuk istirahat bagi otot pendengaran," ujarnya.



Selain itu, lanjut Dokter Eka, perlu diwaspadai efek samping gelombang elektromagnetik yang dipancarkan HP. Radiasi telepon gengam berakibat buruk terhadap tubuh manusia. Ia menyebutkan radiasi HP memancarkan 215 kali perdetik masuk ke sel-sel otak mengenai DNA dalam sel. Tiap HP memancarkan 900 Mhz-1800 Mhz. Untungnya, kata Dokter Eka ini, manusia memiliki sawar darah otak yang melindungi paparan radiasi ini. Jika memungkinkan sebaiknya gunakan peralatan hands-free untuk mendengarkan suara lewat HP. Anak-anak usia dibawah 8 tahun sangat rentan terhadap pancaran radiasi ini, sehingga sangat disarankan belum waktunya menggunakan HP.

Ia menyarankan malam hari sebaiknya HP dimatikan. Jika tetap menyala, sebaiknya diletakkan di luar kamar tidur, agar gelombang elektromagnetik tidak menyerang organ otak manusia. Lapisi HP dengan aluminium agar memroteksi gelombang elektromagnetik. "Efek samping yang ditimbulkan gelombang elektromagnetik ini, sulit tidur, pusing, telinga mendenging, dan daya tahan tubuh menurun," jelasnya.

Untuk mencegah radiasi gelombang elektromagnetik kata Dokter Eka, jangan gunakan HP terlalu dekat dengan liang telinga, berikan jarak secukupnya. Untuk batas jarak masih dalam penelitian dokter Eka. Jangan gunakan HP terlalu lama disamping panas yang disebabkan baterai HP, gelombang elektromagnetik juga memberi efek kurang baik. Makan makanan yang mengandung vitamin untuk saraf seperti B1, B6, B 12 yang banyak terkandung pada kacang-kacangan, tahu, tempe, kacang panjang, taoge.

Untuk mengurangi paparan gelombang elektromagnetik, dapat dipilih HP jenis CDMA dengan frekuensi 125 Mhz, karena radiasinya lebih kecil.

Ia menilai kebiasaan mendengarkan musik menggunakan earphone/walkman sudah menjadi trend anak muda. Bahkan tak jarang earphone juga digunakan untuk menerima telepon. "Earphone menempel langsung di liang telinga. Artinya terjadi kelipatgandaan resonansi. Sebagai contoh HP memiliki kebisingan 80 dB (desibel). Jika mengunakan earphone kebisingannya menjadi bertambah 1, 6 kali. Efeknya tentu lebih berat," kata Dokter Eka.

Gejala awal akan muncul keluhan mendenging. Menurut Dokter Eka, saraf di telinga tengah mengeluh memberi respon bahwa adanya gangguan. Jika cepat direspon dengan mengistirahatkan pendengaran, mungkin saja segera dapat pulih kembali. Namun, jika tidak ditangani dengan cepat, maka muncul gangguan pendengaran menetap atau tuli.

Menurutnya ada perbedaan arti mendenging dengan mendengung. Mendenging artinya kebisingan yang mengenai telinga bagian dalam. Jika tidak segera ditangani akibatnya tuli. Sementara mendengung hanya mengenai telinga luar yakni tertutupnya saluran tuba eustakhius karena perubahan tekanan.

Salah satu kasus dampak negatif earphone dituturkan Dokter Eka. Seorang perempuan melakukan perjalanan dari Bangkok ke Jakarta. Dalam pesawat ia mengunakan earphonedari Bangkok hingga tiba di Jakarta selama 3 jam perjalanan. Setibanya di bandara Sukarno Hatta, ia melepas earphone-nya, namun ia tidak dapat mendengar suara. Malah hanya terdengar suara mendenging. Akhirnya dengan terpaksa ia harus menjalani rawat inap selama tiga hari di RS THT Jakarta.

Akhirnya kondisi pendengarannya mulai membaik, namun sayang fungsi pendengarannya tidaklah sebagus sebelumnya. "Ada ketentuan jika tingkat kebisingan lebih dari 100 dB, tidak boleh terpapar lebih dari 2 jam. Lebih dari itu, genderang telinga rusak. Inilah yang dialami gadis itu," jelasnya.

Kebisingan suara mempunyai satuan dB. Batas kebisingan normal adalah 85 dB. Lebih dari itu sudah tergolong bising yang dapat menyebabkan gangguan pendengaran. Beberapa contoh penelitian dikutip Dokter Eka seperti kebisingan Jalan Diponegoro Denpasar 80 dB, musik rock 100 dB, suara pesawat dan helikopter 120 dB.

"Suara yang masuk ke telinga ditahan otot-otot kecil di telinga tengah yang memegang genderang telinga, agar tidak bergetar terlalu keras. Kalau ini lolos, dan otot lelah ia akan masuk ke telinga dalam yang mengakibatkan rusaknya sel rambut di dalam telinga dalam yang merupakan organ pendengaran," jelasnya.

Untuk meredam kebisingan, hal yang penting dilakukan adalah mengistirahatkan pendengaran. Dokter Eka sudah melakukan penelitian tentang jam kerja yang baik yakni 6 jam perhari selama 5 hari mulai hari Senin hingga Jumat, dan libur dua hari yakni Sabtu dan Minggu.

Ia menyarankan sepulang bekerja pada malam hari sebaiknya istirahatkan pendengaran. "Jangan lagi menonton TV atau mendengarkan musik. Gunakan hari Sabtu dan Minggu untuk mengistirahatkan pendengaran sehingga hari Senin siap beraktivitas lagi," sarannya.

Pengobatan gangguan pendengaran kata Dokter Eka, disebut periode emas yakni batas waktu tuli dengan pengobatan. Artinya, makin cepat diobati makin baik sehingga tingkat kesembuhannya semakin besar.

Pengobatannya juga tidak mudah karena harus menjalani rawat inap. "Bagian telinga dalam hanya dilalui satu pembuluh darah. Kalau terkena kebisingan pembuluh darah menjadi stres dan menguncup, sehingga telinga dalam tidak ada suplai makanan sehingga obat harus dimasukkan lewat infus. Ini hanya bisa dilakukan dengan rawat inap di RS," ungkap Dokter Eka.

Menurut Dr Imre Fejes, juru bicara tim peneliti konsrnetrasi dan kulaitas sperma pada pria yang terkena radiasi telepon genggam berkepanjangan lebih buruk ketimbang sperma pada pria yang jarang menenteng-nenteng telepon seluler. Penemuan baru saat ini menunjukkan bahwa gelombang radio yang dipancarkan HP bias nerusak struktur DNA manusia.

Penelitian ini dilakukan oleh 12 lembaga reset, 7 diantaranya ada di Eropa selama 4 tahun. 1996, Universitas of Washington, Seattle menemukan bahwa EMR dalam bentuk energi gelombang radio rendah terbukt bias merusak DNA. Kelompok risetb Jerman, Verum mencoba mempelajari efek radiai HP terhadap sel-sel tubuh manusia. Hasilnya sel-sel tubuh yang terkena paparan gelombang elektromagnetik seperti pada HP mengalami kerusakan yang signifikan. Bahkan mutasi sel-sel ini bisa menjadi penyebab timbulnya kanker. Pancaran radiasi yang digunakan dalam penelitian berada pada level 0,3-2 watt/kg, sementara pada HP memancarkan sinyal radio atau SAR (Spesifik Absortion Rate) yang berada pada level 2 watt/kg. Beberapa akibat buruk yang biasa terjadi pada tubuh manusia menurut sejumlah penelitian antara lain meningkatkan resiko terkena tumor telinga , kanker otak, berpengaruh buruk pada jaringan otak, mengakibatkan meningioma, neurioma akustik, acoustic melanoma dan kanker ludah.

Sebenarnya semua handphone yang beredar masih bias dkategorikan "aman" karena tingkat SAR-nya masih dibawah 1,6 watt/kg. Meskipun demikian ada beberapa orang yang merasa agak pusing atau telinganya panas setelah menggunakan handphone-handphone yang dikategorikan "aman" tersebut. Jadi yang betul-betul aman (bukan sekedar aman saja) adalah tingkat radasinya dibawah 1 watt/kg. Maka dari itu untuk memisahkan yang "aman" dan yang "betul-betul aman", dibuatlah tabel dibawah ini. Untuk lebih jelasnya lihat pengaruh posisi antenna terhadap resiko kanker otak.

Beberapa institusi juga menyatakan bahwa radiasi dari penggunan HP tidak berbahaya. Dan memang radiasi HP tersebut, yang tergolong gelombang RF, tidak cukup berbahaya. Tapi bukan berarti kemungkinan adanya efek samping tidak ada. Radiasi RF pada level tinggi dapat merusak jaringan tubuh. Radiasi RF punya kemampuan untuk memanaskan jaringan tubuh seperti oven microwave memanaskan makanan. Dan radiasi tersebut dapat merusak jaringan tubuh, karena tubuh kita tidak diperlengkapi untuk mengantisipasi sejumlah panas berlebih akibat radiasi RF. Penelitian lain menunjukkan radiasi non-ionisasi (termasuk gelombang RF) menimbulkan efek jangka panjang.

Sungguh tragis mendapati bahwa handphone (HP) yang setiap hari kita pakai ternyata memiliki radiasi yang cukup mematikan dalam jangka panjang kita tidak berhati-hati menggunakannya. Yang juga mengejutkan adalah radiasi HP ternyata juga bias dipakai untuk mematangkan sebutir telur seperti microwave.


Untuk membuktikannya, dibutuhkan:
  • 1 butir telur dan 2 HP. Telur diletakkan di tengah-tengah kedua HP.
  • 65 menit percakapan ke 2 HP tersebut.
  • Buktikan!!! Telur tersebut telah matang dan siap dimakan. Otak kita jg akan menjadi matang bila terus menerus ditempelkan pada HP. Otak dan telur sama-sama mengandung jumlah air dan protein.
  • Mulailah panggilan antara kedua HP selama kurang lebih 65 menit
  • 15 menit tidak terjadi apa-apa
  • Setelah 25 menit telur mulai hangat, setelah 45 menit, buktikan sendiri!
Pada HP terdapat istilah transmitter yang mengubah suara menjadi gelombang sinusoidal kontinu yang kemudian dipancarkan keluar melalui antenna dan gelombang ini berfluktuasi melalui udara. Gelombang RF (radio frequency) inilah yang menimbulkan radiasi elektromagnetik.

Berikut beberapa penyakit dan kelainan yang berpotensi timbul karena radiasi HP:
  1. Kanker
  2. Tumor otak
  3. Alzheimer
  4. Parkinson
  5. Fatigue (terlalu capai)
  6. Sakit kepala
Penelitian yang berbeda menghasilkan hasil yang berbeda. Ada yang menyatakan radiasi HP lebih banyak menyebabkan kanker dan kelainan. Ada yang menyatakan bahwa radiasi HP tidak berhubungan dengan kanker. Terlepas dari mana yang benar atau salah tentu kita sebaiknya perlu untuk bersikap waspada dan mengantisipasi.

Tips Mengurangi Efek Radiasi Ponsel :
  1. Gunakan headset atau headphone nirkabel (wireless) dengan emitor bluetooth berdaya rendah.
    Cara ini menjauhkan pemancar sinyal dari otak di kepala, namun tidak bisa mencegah risiko impotensi selama masih dikantongi di celana. Perangkat bebas genggam nirkabel, misalnya bluetooth juga masih memancarkan radiasinya sendiri meski lebih sedikit.
  2. Usahakan menjauhkan ponsel setidaknya 1 inci/ 2,5 cm dari tubuh Anda.
    Jangan terlalu sering meletakan hp dekat ginjal, jantung dan kantung celana. bila ponsel melekat seharian di tubuh Anda, letakkan dengan layar menghadap ke dalam. Bila tak digunakan sebaiknya taruh di tas atau dompet.
  3. Jangan simpan ponsel di kantong baju atau celana
    Otak bukan satu-satunya organ tubuh manusia yang terpengaruh oleh radiasi ponsel. Untuk mengurangi risiko tersebut, ada baiknya ponsel disimpan di tas kecil yang bisa dijinjng ke mana-mana. Karena, baru-baru ini ilmuwan Hongaria menyimpulkan, pria yang terlalu sering menyimpan handphone-nya di pinggang atau saku celana akan mengalami masalah kesuburan. Juga bebarapa penelitian membuktikan, radiasi bisa mempengaruhi kualitas sperma pria dan meningkatkan risiko kanker payudara pada wanita.
  4. Bila memungkinkan, gunakan ponsel dalam kondisi sinyal terkuat.
    Semakin lemah sinyal, semakin banyak frekuensi radio yang digunakan agar bisa terhubung.
  5. Kirim SMS saja ketimbang menelepon bila memungkinkan.
    Radiasi SMS lebih rendah ketimbang berbicara. Mengirim SMS juga menjauhkan radiasi dari kepala Anda. Radiasi yang dipancarkan saat berkirim pesan singkat lebih sedikit dibandingkan saat menerima atau melakukan panggilan suara. Selain itu, posisi ponsel saat berkirim pesan berada lebih jauh dari kepala dibandingkan saat telepon.
  6. Jangan simpan ponsel di bawah bantal
    Meski sedang tidak digunakan, ponsel dalam posisi stand by (tetap menyala) masih memancarkan radiasi agar selalu terhubung dengan jaringannya. Meletakkan ponsel di bawah bantal saat tidur akan mendekatkannya dengan kepala sehingga otak akan terpapar radiasi sepanjang malam.
  7. Jauhkan ponsel dari bayi dan jauh dari perut jika Anda tengah hamil.
    Otak janin dan bayi paling rentan terhadap radiasi.
  8. Bacalah petunjuk pengguna untuk mengetahui rincian lebih lanjut dan tindakan pencegahan dari bahaya radiasi.
  9. Kurangi menelpon menggunakan HP dalam gedung.
  10. Kurangi atau jauhkan pemakaian untuk anak-anak.
  11. Gunakan hp yang radiasinya dibawah level kelayakan
  12. Gunakan casing (tutup) antiradiasi
Berbagai produk untuk mengurangi radiasi ponsel banyak ditawarkan di pasaran, mulai dari stiker antiradiasi hingga casing khusus untuk ponsel cerdas yang radiasinya cukup tinggi. Sebuah pengujian independen yang dilakukan majalah Wired menunjukkan, beberapa merek casing antiradiasi mampu mengurangi radiasi hingga 66,7 persen.

Walau demikian, tak perlu kita merasa cemas secara berlebihan. Radiasi yang ditimbulkan oleh ponsel, daya rusaknya tidak sebesar radiasi yang ditimbulkan oleh radioaktif. Tapi, perlu kita pertimbangkan juga bahwa sekecil apapun efek yang kita terima, kalau mengenai secara terus menerus, akan mengakibatkan gangguan yang dahsyat juga nantinya.

Kritik Keynes terhadap pandangan klasik


1)      Kritik Keynes terhadap pandangan klasik:
a. tabungan
fungsi tabungan adalah suatu garis yang menggambarkan hubungan di antara jumlah tabungan dan pendapatan nasional. Sifat tabungan masyarakat adalah sebagai berikut:
· Apabila tingkat pendapatan nasional rendah tabungan masyarakat negarif. Keadaan ini berarti
masyarakat menggunakan tabungan dimasa lalu untuk membiayai hidupnya.
· Semakin tinggi pendapatan nasional, semakin banyak tabungan masyarakat.
b. Suku bunga
Kenes juga mengkritik pandangan klasik mengenai penentuan suku bunga. Dalam teori keuangan modern yang dikembangkan oleh Keynes, suku bungan ditentukan oleh permintaan dan peawaran uan. Bank sentra dan system perbabkan adalah institusi yang akan menentukan besarnya penawaran uang pada suatu waktu tertentu. Sedangkan permintaan uang ditentukan oleh kinginan masyarakat untuk memegang uang.


Gambar diatas menunjukkan kurva penawaran uang MS0 dan MS1 dan kurva permintaan uang MD. Sumbu tegak menunjukkan suku bunga dan sumbu datar menunjukkan jumlah uang dalam perekonomian (penawaran uang) dan permintaan uang oleh masyarakat. Kurva penawaran uang berbentuk tegak lurus karena penawaran uang tidak ditentukan oleh suku bunga. Bank sentral akan menyediakan uang sesuai dengan yang dibutuhkan masyarakat dan oleh sebab itu besarnya tidak tergantung kepada suku bunga. Sebaliknya suku bungan dapat mempengaruhi permintaan uang. Kalu suku bunga dan tingkat pengembalian modal rendah, masyarakat lebih suka memegang uang dari menginvestasikannya. Oleh sebab itu makin rendah suku bunga semakin besar jumlah uang yang diminta (dipegang atau disimpan) masyarakat. Berdasarkan sifat ini kurva permintaan menurun dari kiri atas ke bawah.

Menurut Keynes keseimbangan diantara permintaan dan penawaran uang, yaitu MD=MS akan menentukan suku bunga. Dengan demikian, apabila pada mulanya dimisalkan penawaran uang adalah MS0 maka keseimbangan MD=MS akan dicapai pada titik E dan suku bunga adalah r. Kenikan penwaran uang dari MS0 menjadi MS1 akan memindahkan keseimbangan permintaan dan penawaran uang ke E1 dan menyebabkan suku bunga turun ke r1.

c. tingkat upah
didalam analisis klasik diyakini bahwa tingkat upah mengalami perubahan –perubahan dan ini merupakan factor lain yang akan menjamin tercapainya tingkat penggunaan tenaga penuh. Keynes mengritik pendapat ini dan selanjutnya menunjukkan bahwa dari sudut kenyataan yang terdapat dalam masyarakat dan dari sudut teori, pendapat itu tidak benar. Kalu dibandingkan pendapat ahli-ahli ekonomi klasik itu dengan kenyataan yang sebenarnya wujud dalam suatu perkonomian modern, akan dapat dilihat bahwa tingkat upah tidak mudah mengalami penurunan. Sebagai akibatnya penganguran menjadi lebih sukar untuk dihapuskan. Dalam perekonomian modern terdapat persatuan-persatuan pekerja yang selalu mempertahankan dan memperjuangkan perbaikan nasib para pekerja. Usaha ini termasuklah menjaga agar para pekerja diberi upah yang wajar. Persaruan pekerja akan selalu menentang setiap usaha untuk menurunkan tingkat upah yang dibayarkan kepada para pekerja. Kekuasaan ini menyebabkan tingkat upah tidak mudah untuk diturunkan.
d. Pendapatan nasional 

Analisis Keynes menunjukkan tentang pentingnya arti peranan dari pengeluaran agregat ke atas jumlah barang dan jasa yang akan diproduksikan oleh sektor perusahaan di dalam menentukan tingkat kegiatan ekonomi. Ini berarti analisis Keynes lebih banyak memperhatikan aspek permintaan, yaitu menganalisis mengenai peranan dari permintaan berbagai golongan masyarakat didalam menentukan tingkat kegiatan ekonomi yang akan dicapai oleh sesuatu perekonomian. Pada hakekatnya analisis itu berpendapat bahwa tingkat kegiatan ekonomi negara ditentukan oleh besarnya permintaan efetif, yaitu permintaan yang disertai oleh kemampuan untuk membayar barang dan jasa yang diminta tersebut, yang wujud dalam perekonomian. Bertambah besar permintaan efektif yang wujud dalam perekonomian, bertambah besar pula tingkat produksi yang akan dicapai oleh sektor perusahaan. Keadaan ini dengan sendirinya akan menyebabkan pertambahan dalam tingkat kegiatan ekonomi, pertambahan penggunaan tenaga kerja dan pertambahan penggunaan factor-faktor produksi.

Analisis Keynes merupakan analisis jangka pendek. Ini berarti analisisnya memisalkan bahwa jumlah maupun kemampuan dari factor-faktor produksi tidak mengalami pertambahan. Oleh sebab itu apabila kegiatan ekonomi bertambah tinggi dan lebih banyak factor-faktor produksi digunakan, pengangguran tenaga kerja dan factor-faktor produksi lainnya akan berkurang. Makin besar permintaan efektif makin kecil jurang di antara tingkat kegiatan ekonomi yang tercapai dengan tingkat kegiatan ekonomi pada tingkat penggunaan tenaga kerja penuh. Sebagai akibatnya tingkat pengangguran akan menjadi semakin rendah.

Dalam analisisnya Keynes membagikan permintaan agregat kepada dua jenis pengeluaran: pengeluran konsumsi oleh rumah tangga dan penanaman modal oleh para pengusaha. Dalam analisis makro ekonomi yang wujud sekarang pengeluran agregat dalam perekonomian meliputi pula pengeluaran pemerintah dan ekspor. Dengan demikian pengeluran agregat dapat dibedakan kepada empat komponen: konsumsi, rumah tangga, investasi perusahaan, pengeluaran pemerintah, dan ekspor.

e. Kegiatan ekonomi
Keynes menciptakan pula suatu pendekatan baru dalam analisis ekonomi, yaitu ia menganalisis kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam perekonomian sebagai suatu keseluruhan, dan bukan menganalisis bagian-bagian kecil daripadanya. Dan yang lebih penting lagi, Keynes mengemukakan suatu teori yang menggambarkan tentang bagaimana tingkat kegiatan ekonomi dalam sesuatu negara ditentukan, dan factor-faktor yang menentukan tingkat kegiatan ekonomi tersebut. Pandangannya tersebut sangat berbeda dengan pandangan ahli-ahli ekonomi klasik. Hal-hal yang diterngkan oleh Keynes adalah :
· Peranan perbelanjaan agregat dalam menentukan kegiatan ekonomi
· Komponen utama dalam perbelanjaan agregat
· Contoh angka dan gambaran secara grafik mengenai penentuan kegiatan sesuatu
perekonomian.
 
2)      PERBEDAAN TEORI KEYNES DAN TEORI KLASIK

Teori Klasik
Teori  Keynes
Cara mengatasi pengagguran  adalah dengan mengurangi tingkat upah
Cara mengurangi pengangguran adalah dengan memperbanyak investasi
Pemerintah memiliki peran minimal dalam perekonomian
Pemerintah memiliki peran besar dalam perekonomian
Bertumpu pada masalah-masalah mikro
Bertumpu pada masalah-masalah makro
Berlandaskan pada hokum “say” yaitu “penawaran akan menciptakan permintaannya sendiri”
Menganggap itu sebuah kekeliruan karena biasanya permintaan lebih kecil dari penawaran
Jumlah tabungan akan selalu sama dengan jumlah investasi
Jumlah tabungan tidak sama dengan jumlah investasi
Posisi keseimbangan sumber daya, termasuk didalamnya sumber daya tenaga kerja akan dimaanfaatkan secara penuh. Seandainya terjadi pengangguran, pemerintah tidak perlu melakukan tindakan kebijaksanaan apapupun.
Dalam kenyataan pasar tenaga kerja tidak bekerja sesuai pandangan klasik. Dimanapun para pekerja mempunyai semacam serikat buruh yang akan berusaha memperjuangkan kepentingan buruh dari penurunan tingkat upah.

Selasa, 15 April 2014

Hakikat Pergerakan Nasional

Hakikat Pergerakan Nasional  

 


a. Arti dan makna pergerakan nasional


 Ciri khas yang ada pada Ilmu Sejarah adalah sifat subyektivitas yang tercermin pada setiap penulisan sejarah. Tanpa mengurangi hakekat kebenaran yang ingin dicapai dalam suatu penulisan sejarah, ternyata unsur ini  tetap melekat. Seperti halnya dalam istilah pergerakan nasional yang selama ini kita temukan dalam tulisan sejarah sebenarnya juga menunjukan adanya subyektivitas tersebut, karena setiap bangsa dalam memandang suatu peristiwa sejarah tentunya memiliki kepentingan.

Subyektivitas ini termasuk di dalamnya terkait dengan kurun waktu dari masa pergerakan nasional serta keterlibatan berbagai macam unsur dan golongan. Berkaitan dengan istilah pergerakan nasional tidak banyak yang mengemukakan terminologi ini.
Seperti yang dikatakan oleh Koch bahwa kecuali dari buku De Nationalistiche Beweging in Nederlans Indie yang ditulis oleh Petrus Th. Blumberger, belumlah ada suatu penerbitan yang dalam bahasa Belanda yang memuat pandangan yang cukup tajam (DMG. Koch, 1951 : 6).
Dilihat dari munculnya istilah sejarah pergerakan nasional itu sebenarnya formulasi ini pada mulanya diintrodusir oleh P. Th. Blumberger seperti yang dikutip di atas. Masalah pergerakan nasional itu menjadi problem karena berkaitan dengan keterlibatan bangsa dalam arti secara keseluruhan masih merupakan peristiwa langka saat itu.
Di pihak lain perjuangan bangsa Indonesia dalam menentang penjajah Belanda sebenarnya telah berlangsung jauh sebelum abad XX. Karena itu masih perlu dijelaskan kriteria apa yang harus dipakai untuk melihat suatu gerakan itu bersifat nasional. Haruskah gerakan itu dilaksanakan secara serentak di seluruh wilayah Indonesia (Hindia Belanda) atau kualitas gerakan yang bagaimana yang dapat disebut sebagai gerakan nasional itu.
Jika dilihat dari kacamata sekarang tentu gerakan nasional itu adalah gerakan yang kita lakukan sebagai bangsa Indonesia yang serentak, terencana dan memiliki tujuan yang telah dirumuskan sebelumnya sehingga memiliki suatu arah dan kepastian dalam keinginan yang dituju.
Akan tetapi ukuran ini tentu tidak dapat diterapkan pada awal dekade abad XX. Pergerakan nasional adalah pergerakan bangsa itu, walaupun yang bergerak itu sebagian rakyat atau sebagian kecil sekalipun asalkan apa yang menjadi tujuan itu dapat menentukan nasib bangsa itu secara keseluruhan, menuju tujuan yang tertentu yaitu kemerdekaan.
Dalam gerakan ini kesetiaan diletakkan pada bangsa itu sendiri. Pergerakan nasional pada umumnya merupakan pergerakan dari bangsa yang terjajah melawan bangsa yang menjajah untuk mendirikan suatu negara yang merdeka. Tujuan pergerakan nasional yang seutuhnya tidak mungkin akan terwujud sejauh kemerdekaan dalam bidang politik belum dapat dicapai.
Pergerakan nasional dalam sejarah Indonesia merupakan salah satu momentum yang penting. Memang setiap momentum, dalam sejarah, memiliki karakteristik tertentu yang membedakan dengan peristiwa sebelum dan sesudahnya. Setiap momentum mengandung nilai-nilai tertentu, yang jika kita hubungkan dengan sejarah sebagai alat pendidikan tentu mengandung makna.
Periode pergerakan nasional perlu mendapatkan tempat yang penting dalam kerangka periodisasi sejarah Indonesia karena ada suatu ciri yang sangat berbeda pada momentum ini jika dibandingkan dengan babakan sejarah sebelumnya. Ciri yang dimiliki inilah menjadikan pergerakan nasional memiliki arti penting dalam sejarah Indonesia.
Pergerakan Indonesia meliputi berbagai gerakan atau aksi yang dilakukan dalam bentuk organisasi secara modern menuju ke arah yang lebih baik terutama dalam kehidupan rakyat Indonesia. Oleh karena itu dalam perkembangannya gerakan yang terjadi tidak hanya bersifat radikal akan tetapi juga ada yang bersifat moderat.
Namun demikian bagi suatu organisasi taktik perjuangan dapat berbeda asalkan memiliki tujuan yang sama. Oleh karena itu koperasi ataupun non koperasi bukan suatu tujuan melainkan semata-mata sebuah taktik perjuangan. Di samping istilah pergerakan nasional kita juga mengenal istilah perjuangan nasional.
Akan tetapi kata perjuangan sebenarnya memiliki cakupan waktu yang lebih luas (lama) karena perjuangan bangsa itu sebenarnya sejak bangsa itu ada sampai mencapai tujuannya, sedang pergerakan nasional hanyalah meliputi kurun waktu 1908-1945.
Seperti yang dikatakan oleh Susanto Tirtoprodjo, bahwa perjuangan mempunyai arti yang luas, sehingga yang dilaksanakan oleh pahlawan-pahlawan kita seperti Diponegoro, Teuku Umar, Imam Bonjol, Hasanudin dan sebagainya merupakan peristiwa-peristiwa dalam perjuangan nasional Indonesia.
Di atas telah disinggung bahwa pergerakan nasional itu adalah gerakan yang memiliki tujuan yang pasti, dalam hal ini adalah gerakan tersebut memiliki ciri-ciri tersendiri. Jika suatu gerakan memiliki tujuan yang pasti, seharusnyalah gerakan itu teratur dalam arti memiliki suatu perbedaan dengan gerakan yang pernah terjadi sebelumnya.
Perjuangan bangsa Indonesia dalam menentang penjajahan memang dilakukan dengan berbagai macam cara. Sejak kedatangan bangsa asing ke Indonesia, bangsa Indonesia tidak tinggal diam. Mereka melakukan perlawanan bahu-membahu. Hal ini dapat kita lihat dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia seperti dalam perang-perang lokal antara lain serangan Sultan Agung terhadap VOC, Perang Diponegoro, Perang Padri, Perang Aceh, Perang Makasar dan lain sebagainya.
Hanya saja apa yang mereka lakukan belum memperoleh hasil yang optimal, artinya belum mampu mengusir penjajah dari bumi Indonesia. Ketidakmampuan ini tidak harus ditafsirkan kalau para pejuang kita kalah. Belum berhasilnya menembus benteng penjajahan itu banyak sekali faktor yang mempengaruhi.
Dilihat dari strategi perjuangan, rupanya perang (perang fisik) banyak berbicara. Oleh karena itu kita perlu mengenang keberanian para pejuang Indonesia dalam menghadapi penjajahan itu. Mereka bersemboyan ''Merdeka atau Mati''. Hanya saja suatu hal yang kurang mendapat perhatian adalah koordinasi dalam perjuangan belum dilaksanakan, komunikasi belum terkoordinir.
Hal itu dapat kita lihat dalam Perang Diponegoro yang waktunya hampir bersamaan dengan Perang Paderi. Jika saja ada koordinasi antara kedua peristiwa itu, tentulah jalannya sejarah akan menjadi lain. Tetapi sayang komunikasi tidak ada/belum dapat terjalin sehingga penghentian perang antara Belanda dengan kaum Paderi di Sumatera Barat justru menguntungkan pihak Belanda sendiri karena kekuatannya dapat dipusatkan untuk menghadapi pasukan Pangeran Diponegoro di Jawa.
Setelah pasukan Diponegoro dapat dilokalisir maka kekuatan selanjutnya dipergunakan untuk menghadapi pasukan Paderi di Sumatera Barat. Kenyataan ini mengingatkan kita pada politik Belanda yang memecah belah persatuan. Persatuan merupakan unsur vital dalam rangka menghadapi penjajahan semacam Belanda.
Jika masalah ini ternyata sarana untuk mengkomunikasikan taktik dan strategi dalam menghadapi Belanda belum terjadi pada periode sejarah Indonesia sebelum abad XX. A.K. Pringgodigdo dalam bukunya ''Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia'', pada halaman 1 menyebut dengan istilah organisasi ''modern''.
Contoh organisasi yang pertama memiliki ciri-ciri modern ini adalah Budi Utomo, yang didirikan oleh Dr. Soetomo pada tahun 1908. Berdirinya organisasi yang mempunyai ciri dan watak berbeda dengan apa yang ada dalam perjuangan bangsa Indonesia sebelum abad XX oleh bangsa Indonesia diperingati sebagai hari Kebangkitan Nasional.


Peringatan lahirnya Budi Utomo sebagai Hari Kebangkitan Nasional didasarkan atas Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 316, tertanggal 16 Desember 1959. Jadi peringatan Kebangkitan Nasional bertepatan dengan peringatan lahirnya Budi Utomo 20 Mei 1908, tentu ada hal yang spesifik.
Yang kita maksud spesifik menurut A.K. Pringgodigdo adalah sebagai berikut :
1. Memiliki pengurus yang pasti;
2. Memiliki anggota yang terdaftar;
3. Memiliki tujuan;
4. Memiliki rancangan pekerjaan yang dalam hal ini program kerja;
5. Lain-lain didasarkan atas peraturan-peraturan yang telah ditetapkan.
Dari uraian diatas jelaslah bahwa disamping syarat-syarat yang dikemukakan oleh A.K. Pringgodigdo di atas, tentu tekanan kita adalah bahwa tujuan yang ingin dicapai adalah untuk kepentingan nasional (kemerdekaan bangsa). Pembahasan tentang makna pergerakan nasional, kita harus mengetahui terlebih dahulu bahwa makna itu apa.
Sidi Gazalba menyebutkan : Makna adalah Azas yang menentukan saling berhubungan antara bagian-bagian dan antara bagian-bagian dengan keseluruhan. Jika kita telah pembahasan ini ternyata makna itu dikaitkan dengan suatu pendekatan sistem. Berbicara tentang makna pergerakan nasional, tentu tidak terlepas dari makna sejarah pada umumnya.
Hal ini karena pergerakan nasional merupakan salah satu bagian dari sejarah Indonesia. Pentingnya sejarah bagi suatu bangsa, mengingat sejarah memiliki arti penting, karena ada sesuatu yang dapat diberikan oleh sejarah pada kita. Orang sering mengatakan, kita hendaknya belajar dari sejarah.
Sekarang, kalau kita berbicara tentang makna pergerakan nasional, tentu tidak dapat dipisahkan dengan kedudukan pergerakan nasional dalam sejarah perjuangan nasional. Hal ini karena perjuangan nasional memiliki makna yang luas. Sehubungan dengan hal itu, kita melihat sampai sejauh mana pergerakan nasional itu menimbulkan dampak terhadap perjuangan selanjutnya.
Jawaban akan masalah ini memberikan petunjuk pada kita bahwa gebrakan Budi Utomo sebagai pemula pergerakan nasional menimbulkan suatu kenyataan, dimana banyak partai politik berdiri mengikutinya, seperti Sarekat Islam, Indische Partij, Partai Nasional Indonesia, Partindo dan sebagainya, baik yang bersifat politik, sosial, ekonomi dan kebudayaan. Dari kenyataan tersebut di atas, jelaslah bahwa pergerakan nasional yang muncul awal abad XX memberikan warna baru dalam hubungannya dengan taktik dan strategi perjuangan bangsa Indonesia.
b. Perkembangan pendidikan di Indonesia


Perkembangan sistem pendidikan pada masa Hindia Belanda tidak dapat dipisahkan dengan politik etis. Ini berarti bahwa terjadinya perubahan pada negeri jajahannya (Indonesia) banyak dipengaruhi oleh keadaan yang terjadi di negeri Belanda sendiri.Tekanan datang dari Partai Sosial Demokrat yang di dalamnya ada Van Deventer yang juga seorang liberal yang tangguh dengan mencetuskan hutang budi.
Apa yang diinginkan Van Deventer ternyata menjadi kenyataan ketika dalam bulan September 1902 A.W.F. Indenburg mulai menduduki pos Menteri Urusan Jajahan. Dalam salah satu pidatonya Indenburg mengatakan :
''Selama dua puluh lima tahun terakhir ini penduduk (pulau Jawa) telah bertambah empat puluh lima persen, sedangkan tanah sawah hanya bertambah dua puluh tiga persen (produktivitas dua puluh delapan persen). Jadi penghasilan rata-rata perorangpun menurun. Jumlah petani yang tidak memiliki tanah bertambah. Jumlah penduduk yang mencari lapangan usaha lain bertambah, tetapi pendapatan rata-rata mereka menurun. Semua kenyataan ini membenarkan kesimpulan bahwa Jawa berada dalam keadaan transisi. Dari suatu masyarakat yang benar-benar agrasi ke suatu masyarakat dimana industri maju ke depan berdampingan dengan pertanian. Dan apabila seseorang memandang kenyataan-kenyataan ini sebagai sebab umum, maka sudah jelas arah yang dituju adalah untuk suatu perbaikan''.


Kutipan di atas memberikan petunjuk bahwa sistem tanam paksa yang dilakukan oleh Belanda ternyata membawa kesegaran yang luar biasa bagi rakyat Indonesia. Pelaksanaan sistem tanam paksa telah mengakibatkan rakyat Indonesia yang amat mendalam.
Ternyata politik yang diterapkan tersebut menghasilkan batig slot dan politik drainage. Setelah mendapat kecaman dari berbagai pihak, maka Belanda mulai menghapus pelaksanaan tanam paksa secara berangsur-angsur. Berkat dorongan kaum liberal, serta kaum humanis di Indonesia mulai dilaksanakan sistem usaha swasta dan penanaman bebas.
Sistem ini kenyataannya tidak dapat mengentas rakyat dari kemiskinan. Banyak kritikan dilakukan oleh tokoh di negeri Belanda seperti de Wall, Fransen van den Pute dan juga oleh Brosstchooft (seorang jurnalis dan redaktur majalah De Locomotif, sebuah harian yang ada di Semarang) yang mengatakan bahwa selama satu abad lebih kekayaan dan keuntungan yang mestinya menjadi milik rakyat Indonesia telah diambil alih oleh pemerintah Belanda.
Pada tahun 1905 adalah saat di mana akan dilaksanakan pemilihan umum, dan ternyata ven Deventer terpilih sebagai anggota Parlemen dari kelompok Demokrat Radikal. Namun sebelum itu sebenarnya tokoh ini telah banyak memberikan kritikan terhadap pemerintah penjajahan Belanda.
Hal ini tercermin dalam tulisan yang dimuat dalam majalah de Gids dengan judul Een Ereschuld yang berarti hutang budi atau hutang kehormatan. Dalam tulisan tersebut, ia menjelaskan bahwa kekosongan kas negeri Belanda sebagai akibat perang Diponegoro dan perang kemerdekaan Belgia telah dapat diisi kembali berkat pengorbanan orang-orang Indonesia.
Kemakmuran dan kemajuan negeri Belanda diperoleh dari kerja dan jasa orang koloni Indonesia. Karena itu Belanda telah berhutang budi kepada rakyat Indonesia. Untuk itu harus dibayar dengan peningkatan kesejahteraan melalui gagasannya yang dikenal dengan ''Tri Logi van Deventer'' yang di dalamnya terdiri dari emigrasi, irigasi, dan edukasi.
Politik yang diperjuangkan dalam rangka mengadakan desentralisasi, kesejahteraan rakyat serta efisiensi yang kemudian dikenal dengan politik etis. Kritik dan saran yang disampaikan van Deventer mendapat tanggapan positif dari pemerintah Belanda. Hal ini dapat dilihat dalam pidato Ratu Wilhelmina pada tahun 1901.
Dalam pidatonya, Ratu mengemukakan gagasan pembaharuan politik yang diberi judul ''Etische Richting'' (Haluan Etika) yang lebih dikenal dengan politik etis. Dalam pidato tersebut Ratu Wilhelmina antara lain menyatakan adanya kewajiban bagi pemerintah Belanda untuk memperbaiki kesejahteraan dan kedudukan orang pribumi.
Hal ini tercermin dari usaha-usaha yang dilakukan dalam rangka menindaklanjuti pidato Ratu Wilhelmina seperti :
1. Pembentukan panitia kemunduran kesejahteraan untuk menyelidiki sebab-sebab kemunduran itu;
2. Menghidupkan kembali perusahaan pribumi;
3. Diadakan pinjaman tak berbunga 30 juta gulden dan pemberian berbagai hadiah 40 juta gulden;
4. Penyelidikan mengenai keadaan ekonomis yang tercantum dalam laporan van Deventer.
Sebagai akibat dari semua itu ternyata terdapat kemajuan serta suatu perubahan yang dapat dilihat dalam hal desentralisasi, perubahan-perubahan pemerintahan, perbaikan kesehatan rakyat, emigrasi, perbaikan pertanian dan peternakan, pembangunan irigasi dan lalu lintas.
Pertama-tama pemerintah Belanda mengusahakan desentralisasi, yang mendasarkan pada tiga prinsip, yaitu pengalihan pemerintah dari Negeri Belanda ke Hindia Belanda, Batavia ke daerah lain, Bangsa Eropa ke penduduk pribumi. Pada kenyataan peralihan pemerintahan dari negeri Belanda ke Indonesia sulit dilaksanakan, namun demikian usaha-usaha ke arah desentralisasi tetap dilaksanakan.
Pada tahun 1903 Staten General (Badan Legislatif Federal) menyetujui adanya Undang-Undang Desentralisasi. Mulai tahun 1905 dibentuk dewan-dewan kota, yang tugasnya antara lain membuat peraturan tentang pajak dan bangunan umum. Dari segi keanggotaan, dewan tersebut lebih banyak didominasi oleh orang-orang Eropa.
Untuk mendukung pelaksanaan politik etis, pemerintah Belanda mencanangkan Politik Asosiasi dengan semboyan unifikasi. Politik asosiasi berkaitan dengan sikap damai dan menciptakan hubungan harmonis antara Barat (Belanda) dan Timur (Rakyat pribumi).
Dengan politik asosiasi dan semboyan unifikasi, akan terjadsi suatu proses pembelandaan terhadap rakyat Indonesia. Namun demikian ternyata cara yang dilakukan Belanda ini tidak memperoleh sambutan dari rakyat Indonesia sehingga kebijakan ini tidak membawa hasil.
Mereka berpandangan bahwa bangsa Belanda merasa superior, lebih kuat dan unggul, sehingga politik asosiasi justru menimbulkan hubungan yang paternalistik. Belanda berperan sebagai bapak dan Indonesia sebagai anak yang masih harus dibina. Oleh karena itu politik etis juga sering disebut sebagai Paternalistik Politik (pater/father = ayah).
Dalam bidang kesehatan, pemerintah telah melaksanakan program pemberantasan penyakit menular, seperti pes, cacar, kolera dan malaria, sehingga dapat menurunkan angka kematian (salah satu faktor yang paling dirasakan sebagai penderitaan adalah tingkat kesehatan masyarakat sangat rendah dan banyak terserang penyakit).
Hal ini tidak lepas dari peningkatan jumlah penduduk, kepadatan penduduk dan sehingga kesempatan kerja di Jawa sangat terbatas mengakibatkan terjadinya pengangguran. Dalam rangka mengatasi hal ini dilaksanakan emigrasi. Perpindahan penduduk terutama dilakukan dari pulau Jawa ke luar Jawa, terutama Sumatera.
Program ini tidak banyak menolong keadaan rakyat, karena lebih banyak menjadi buruh yang hidupnya menderita. Ternyata apa yang dilakukan Belanda bukan menyejahterakan rakyat akan tetapi justru memindahkan kesengsaraan. Inilah secara kultural menjadi beban bagi rakyat Indonesia ketika akan dilaksanakan transmigrasi ke luar Jawa.
Dalam bidang pendidikan (edukasi), tujuan semula Belanda adalah untuk mendapat tenaga kerja atau pegawai murahan dan mandor-mandor atau pelayan-pelayan yang dapat membaca dengan gaji yang murah. Untuk kepentingan tersebut, Belanda mendirikan sekolah-sekolahan untuk rakyat pribumi.
Dengan demikian, jelaslah bahwa pelaksanaan politik etis tidak terlepas dari kepentingan pemerintah kolonial Belanda. Karena itu politik etis sering disebut sebagai politik sarung tangan sutra sebagai pengganti politik sarung tangan besi. Di atas dikatakan bahwa munculnya sistem pendidikan tidak dapat dipisahkan dengan politik etis.
Dari sinilah mulai adanya perhatian terhadap perkembangan pendidikan mengingat salah satu dari Trilogi van Deventer secara eksplisit menyebutkan mengenai edukasi. Jika dilihat dari aspek sejarahnya, sebenarnya sistem pendidikan sudah ada sejak zaman VOC.
Pada tahun 1617 di Jakarta telah didirikan sekolah Betawi (Batavische School). Pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Van Imhoff di Jakarta juga didirikan Seminarium Theologicum. Pada tahun 1743 juga berdiri Akademi Pelayaran (Academie der Marine).
Dengan adanya perbedaan perlakuan sebagai akibat dari sistem sosial yang berlaku dalam masyarakat kolonial khususnya terhadap golongan Timur Asing, maka pada tahun 1737 didirikan sekolah khusus untuk orang Tionghoa.
Munculnya sistem pendidikan kolonial ketika itu, tidaklah berbanding lurus dengan kepentingan mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia. Hal ini karena secara idiil sistem pendidikan lebih banyak pada upaya untuk seberapa jauh pendidikan yang dirancang itu telah memenuhi kebutuhan akan tenaga bagi Hindia Belanda.
Setelah dilaksanakannya Politik Etis sebagai salah satu kebijakan pemerintah Hindia Belanda, banyak lembaga pendidikan mulai berdiri. Namun demikian ternyata perbedaan warna kulit (color line division), ternyata menjadi salah satu hambatan masuk sekolah. Sistem pendidikan ternyata juga dikembangkan disesuaikan dengan status sosial masyarakat (Eropa, Timur Asing dan Bumiputra).

Untuk kelompok bumiputra masih diwarnai oleh status keturunan yang terdiri dari kelompok bangsawan kaum priyayi dan rakyat jelata. Berkaitan dengan hal tersebut di atas, maka struktur pendidikan terdiri dari pendidikan dasar yang di dalamnya ada ELS (Europese Legerschool) dan HIS (Holandsch Inlandschool) untuk keturunan Indonesia asli yang berada pada golongan atas, sedangkan untuk golongan Indonesia asli dari kelas bawah disediakan Sekolah Kelas Dua.
Dalam pendidikan tingkat menengah ada HBS (Hogere Burger School) MULO (Meer Uitegbreit Ondewijs), AMS (Algemene Middelbarea Aschool). Di samping itu juga ada beberapa sekolah kejuruan seperti Kweek School, Normaal School.
Untuk pendidikan tinggi, ada Pendidikan Tinggi Teknik (Koninklijk Institut voor Hoger Technisch Ondewijs in Nederlandsch Indie), Sekolah Tinggi Hukum (Rechschool), dan Sekolah Tinggi Kedokteran yang berkembang sejak dari SekolahDokter Jawa, STOVIA, NIAS dan GHS (Geneeskundige Hogeschool).
Pendidikan kesehatan (kedokteran tersebut di atas) yang sejak 2 Januari 1849 semula lahir sebagai Sekolah Dokter Jawa, kemudian pada tahun 1875 diubah menjadi Ahli Kesehatan Bumiputra (Inlandsch Geneeskundige). Dalam perkembangannya pada tahun 1902 menjadi dokter Bumiputra.
 
Sekolah ini di beri nama STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen) yang kemudian pada tahun 1913 diubah menjadi NIAS (Nederlandsch Indische Artsenschool). Jika kita kaitkan dengan lahirnya pergerakan nasional, peranan para lulusan sekolah kedokteran ini memiliki posisi yang sangat signifikan.
Hal ini terbukti dari kehadiran mereka ternyata menjadi pelopor dalam pergerakan nasional dengan mendirikan organisasi seperti Studie Fond maupun Budi Utomo. Oleh karena itu dalam kaitannya dengan lahirnya pergerakan nasional kita mengenal nama dr. Wahidin Sudirohusodo, dr. Sutomo yang notabene sebagai bapak pergerakan nasional.
c. Nasionalisme dan kesadaran nasional

Nasionalisme jika dilihat dari aspek bahasa, memiliki akar kata Natie (Belanda), atau nation (Inggris) yang berarti bangsa. Bagaimana bangsa itu terjadi banyak pendapat tentang hal ini dan semua itu sangat tergantung pada latar belakang sejarah masing-masing bangsa.
Dengan demikian bangsa itu terbentuk sangat beraneka ragam bisa terjadi karena faktor budaya (nilai-nilai yang ada pada sekelompok yang kemudian menyebut dirinya sebagai bangsa, atau tradisi yang menjadi pengikat diantara mereka), tetapi tidak menutup kemungkinan ada faktor lain seperti ekonomi, politik, teritorial yang semuanya itu bermuara pada adanya kesepakatan bersama diantara mereka dengan mencanangkan suatu tujuan tertentu.
Pertanyaan yang sering mengganggu kita dalam memahami sejarah nasional Indonesia, berkaitan dengan bagaimana nasionalisme Indonesia itu terjadi, bagaimana hubungan antara munculnya nasionalisme itu dengan kesadaran nasional dan kapan sebenarnya nasionalisme Indonesia itu muncul.
Sebelum lahirnya pergerakan nasional mestinya ada ''benih-benih'' terlebih dahulu yaitu kesadaran nasional. Kesadaran nasional sebenarnya suatu pandangan yang sangat terkait dengan soal perasaan, soal kehendak (tekad) semata-mata untuk hidup bersama (ledesir de vivre ensenble) yang timbul antara golongan besar manusia yang nasibnya sama dalam masa lampau terutama dalam penderitaan-penderitaan bersama.
Nasional memiliki fungsi sentral, adalah suatu kesadaran yang menetapkan pengalaman, perilaku serta tindakan individu dalam kerangka nasional, kesemuanya itu ditempatkan dalam konteks nasional baik secara sinkrinis maupun diakronis. Rasa kebangsaan menunjuk pada semangat kadar nasionalitas.
Perjalanan sejarah bangsa Indonesia merekam pemilikan rasa/kesadaran kebangsaan itu. Menentukan kapan sebenarnya munculnya kesadaran nasional itu bukanlah suatu yang mudah, mengingat hal tersebut merupakan gejala masyarakat dimana masyarakat selalu sarat dengan mobilitas serta pertumbuhan.
Memang dari sudut meterial kesadaran itu sudah ada jauh sebelum kedatangan bangsa Barat ke Indonesia. Bangsa Indonesia dalam gerak sejarahnya baik vertikal maupun horizontal membantu rasa kesadaran kebangsaan tersebut sejak kebangkitan nasional pada tahun 1908.
Perjuangan yang dilakukan bangsa Indonesia menghadapi penjajah kiranya bukan tanpa suatu rasa/kesadaran harga diri primordial yang antisipatif akan tetapi kesadaran itu muncul dari sifat primordialis dan tribalistis yang sehat.
Kesadaran nasional bertolak dari faktor kohesi sosial sebagai dasar integrasi dan solidaritas sosial yang terbentuk oleh suatu kekuatan sejarah. Pada gilirannya kekuatan sejarah akan membentuk kecenderungan sejarah yaitu suatu arus besar yang menandai perjalanan alur sejarah dari suatu periode tertentu.
Pada awal abad XX titik-titik terang penemuan kembali harga diri bangsa yang secara nyata telah muncul sebagai sebuah kesadaran nasional. Kebutuhan pendidikan telah disadari sebagai kebutuhan yang tidak bisa ditunda dan diabaikan lagi, kesadaran ini semakin hari semakin meluas di Indonesia.
Keinginan mengejar dan mencapai kemajuan dengan menuntut pelajaran serta pendidikan dengan semakin banyaknya anak-anak sekolah untuk menuntut ilmu. Mereka sadar bahwa penguasaan ilmu pengetahuan (bebas dari kebodohan) merupakan bekal awal untuk mampu menghadapi bangsa Barat.